
MENUNGGU
SETAN LEWAT
Barangkali anda pernah membaca atau
mendengar salah satu artikel Gus Dur yang berjudul “Menunggu Setan Lewat”.
Alkisah Gus Dur bepergian di luar negeri berkunjung ke rumah temannya. Di sana,
Gus Dur diajak pergi ke suatu tempat. Mereka naik mobil, Gus Dur duduk
disamping temannya yang menyetir. Saat itu sudah larut malam ketika mereka tiba
di perempatan jalan dengan trafict light yang menyala lampu merahnya. Mobil pun
dihentikan oleh sang sopir untuk jangka waktu yang cukup lama menunggu hingga
lampu hijau menyala, padahal malam selarut itu jalanan sedang sepi tak ada
orang. Gus Dur heran lalu bertanya pada temannya: “Mengapa mobilnya dihentikan?
Menunggu setan lewat menyeberang ya?” Temannya dengan nada mantap menjawab:
“Ya. Karena setan pun punya hak atas lampu merah ini.”
Seandainya
semua orang mau mematuhi aturan yang dibuat manusia untuk tujuan kebaikan dan
juga menghormati hak-hak orang lain tanpa sebuah keterpaksaan, wah… betapa
damai dan mudahnya menjalankan sebuah organisasi.
Seandainya juga setiap orang
mau melaksanakan apa-apa yang sudah disetujui melalui sebuah kesepakatan –baik
tertulis maupun lisan- maka betapa nikmatnya ketika hak-hak orang lain dapat
terpenuhi.
Mari kita renungkan … betapa
hebatnya setiap anggota masyarakat yang telah membuat kesepakatan menerima
pinjaman dana ekonomi bergulir PNPM-MP kemudian dengan penuh kesadaran
membayarkan angsuran pinjaman setiap bulan dengan disiplin. Hal itu berarti ia
telah menghormati orang lain yang juga punya hak untuk ikut mendapatkan dana
pinjaman ekonomi bergulir tersebut.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar